SEKILAS INFO
: - Monday, 18-10-2021
  • 2 minggu yang lalu / Cendekiawan Muslim VI ? Sudah daftar belum….?
  • 2 tahun yang lalu / Selamat datang di website resmi Muhammadiyah Boarding School (MBS) Tarakan.
TANYA JAWAB #2 - Ucapan-Ucapan yang Termasuk Nadzar

Pertama, sumpah di dalam bahasa Arab  disebut: al-yamin atau al-hilf, ialah kata-kata yang diucapkan dengan menggunakan nama Allah atau sifat-Nya untuk memperkuat suatu hal. Contohnya: “Wallahi (Demi Allah) saya sudah belajar” dan “Wa ’azhamatillah (Demi Keagungan Allah) saya tidak mencuri”. Oleh karena sumpah itu menggunakan nama Allah atau sifat-Nya, maka ia tidak boleh dibuat main-main.

Orang yang bersumpah juga harus memenuhi syarat-syaratnya, yaitu berakal, baligh, Islam, bisa melaksanakannya dan suka rela (tidak dipaksa). Sedangkan rukun sumpah adalah lafal yang dipakai dalam bersumpah harus menggunakan nama Allah atau sifat-Nya. Istilah ini dalam bahasa Arab dikenal bentuk-bentuk sumpah semisal huruf wawu (القسم واو), huruf ta (القسم تاء), dan huruf ba (القسم باء). Semua huruf-huruf terse­but dipakai sebagai alat untuk ber­sumpah yang dalam bahasa Indonesia populer diartikan dengan kata “demi”.

Contoh sebuah perkataan atau lafal sumpah   artinya, “Demi Allah aku akan mengunjungimu besok”. Huruf wawu yang artinya “demi” adalah bentuk kalimat khusus untuk bersumpah. “Allah” adalah sesuatu yang diagungkan dalam sumpah. “Aku akan mengunjungimu besok” adalah isi sumpah.

Jadi, jika melihat pada pengertian, syarat dan rukun sumpah, maka pernyataan Ibu di atas tidak masuk dalam pengertian sumpah, karena sekurang-kurangnya tidak menggunakan lafal sumpah seperti di atas.

Kedua, nadzar adalah suatu ibadah yang telah lama dilakukan orang-orang terdahulu. Nadzar itu disyariatkan, namun tidak digalakkan. Hal ini karena nadzar menunjukkan kekikiran orang yang bernadzar. Orang yang mau melakukan ketaatan atau kebajikan hendaknya melakukannya saja tanpa harus dengan nadzar. Syarat-syarat orang yang bernadzar adalah berakal, baligh, dan suka rela (tidak dipaksa), sesuai dengan hadis,

Dari Ibnu Umar r.a. (diriwayatkan), ia berkata, Nabi saw melarang nadzar dan bersabda, sesungguhnya ia tidak menolak apa pun (takdir) dan hanya saja ia dikeluarkan dari orang yang kikir [HR. al-Bukhari dan Muslim].

Nadzar dibagi menjadi dua bagian sebagai berikut.

  1. Nadzar mutlak, yaitu nadzar yang diucapkan secara mutlak tanpa dikaitkan dengan hal lain, seperti “lillahi ‘alayya (wajib atasku untuk Allah) bersedekah satu juta rupiah”.
  2. Nadzar bersyarat, yaitu nadzar yang akan dilakukan jika mendapat suatu kenikmatan atau dihilangkan suatu bahaya, seperti “jika Allah menyembuhkan penyakitku ini, aku akan berpuasa tiga hari”.

Nadzar wajib dipenuhi atau dilaksanakan  jika merupakan ketaatan kepada Allah dan  Rasul-Nya. Contohnya, bernadzar shalat  di masjid jika hajatnya terkabulkan, atau bernadzar memberi makan anak yatim jika mendapat rezeki yang melimpah. Jika nadzar ini tidak dilaksanakan, maka orang yang bernadzar terkena kafarat. Nadzar atas sesuatu yang mubah atau halal, seperti bernadzar memakai baju baru ketika pergi ke kantor atau bernadzar mengendarai mobil untuk pergi ke masjid jika bisa membeli mobil, maka nadzar ini juga wajib dilaksanakan dan apabila tidak dilaksanakan terkena kafarat.

Kafarat nadzar  sama dengan kafarat sumpah, yaitu memberi makan kepada sepuluh orang  miskin dengan makanan yang biasa diberikan kepada keluarga, atau memberi mereka pakaian, atau memerdekakan hamba sahaya. Jika semua itu tidak bisa dilakukan, maka ia wajib berpuasa tiga hari,  baik secara berturut-turut maupun tidak.

Tapi jika nadzar itu merupakan kemaksiatan atau kedurhakaan kepada Allah dan Rasul-Nya, maka nadzar tersebut tidak wajib dilaksanakan. Contohnya, bernadzar  minum arak jika lulus ujian atau bernadzar menyakiti seseorang atau akan meninggalkan shalat jika naik pangkat/jabatan.

Sumber : Suara Muhammadiyah.id  5 Edisi Februari 2021

3 komentar

Edi saputra, Saturday, 17 Apr 2021

Gimana hukum pabila ada Orang mengatakan sumpah dengan meyebutkan kami akan keluar dalam islam apa bila mengulangi nya lagi

Reply

Nurwulan, Sunday, 2 May 2021

Assalamualaikum. Saya ingin bertanya. Saya pernah bernazar ketika akan lulus SMK yaitu, apabila saya bisa mendapatkan beasiswa kuliah sampai bisa lulus sarjana tanpa memberatkan orang tua, saya ingin memberi makan yg layak kepada seorang nenek yg mengalami gangguan kejiwaan yg sering saya lihat dipinggir jalan. Namun, ternyata saya hanya mendapatkan bantuan dana pemerintah (satu kali) sebanyak 1juta 2ratus. Lalu saya terpikir ingin tetap memberi makan nenek tersebut (1 kali) walau keinginan saya tak tercapai. Kemudian ketika saya ingin memberi makan nenek tersebut, saya tak dapat menemukannya lagi dijalan.

Jadi pertanyaan saya, Apa yang harus saya lakukan selanjutnya? Apakah nazar tersebut bisa dibatalkan atau tetap dilaksanakan? Ataukah bisa diganti dengan memberi makan nenek lain?

Mohon jawabannya🙏

Reply

Muhammad Guntur, Tuesday, 24 Aug 2021

Assamua’alaikum…Saya pernah mengatakan pada diri saya sendiri, (apa bila saya merokok maka saya dosa)apakah ucapan saya itu termasuk sumpah?sedangkan saya tidak mengatakan demi Allah . Tolong penjelasan nya. Terima kasih

Reply

TINGGALKAN KOMENTAR

Maps Sekolah

Pengumuman

CENDEKIAWAN MUSLIM VI

Pembukaan Penerimaan Santri Baru MBS Tarakan Tahun 2021/2022

PENGUMUMAN KELULUSAN KELAS 9 TAHUN AJARAN 2019/2020