SEKILAS INFO
: - Monday, 18-10-2021
  • 2 minggu yang lalu / Cendekiawan Muslim VI ? Sudah daftar belum….?
  • 2 tahun yang lalu / Selamat datang di website resmi Muhammadiyah Boarding School (MBS) Tarakan.
Siti Bariyah - Tokoh Intelektual Perempuan Muhammadiyah dan Ketua Pertama Aisyiyah

Perempuan selalu menjadi topik perbincangan disetiap era peradaban. Perempuan pada masa lalu dianggap sebagai warga kelas dua, dan selalu berada di belakang kaum lelaki. Dalam banyak kisah kita sering mendengarkan kisah-kisah kepiluan perempuan. Tak terkecuali di Nusantara. Perempuan-perempuan di Nusantara diakhir abad ke 18 dipaksa untuk melakukan perkejaan rumah dan tidak dibiarkan untuk menempuh pendidikan. Dominasi pria atau budaya Patriarki melekat dan berurat-berakar dalam masyarakat feodal menjadi tantangan tersendiri bagi Kartini dalam merumuskan emansipasi terhadap persamaan hak perempuan. Garis demarkasi ini jelas menandakan masyarakat primitif seperti ini menyulitkan siapapun yang hendak memperjuangkan hak perempuan. Pola kebudayaan seperti inilah di kemudian hari memunculkan gagasan Emansipasi Wanita.

KH. Ahmad Dahlan sejak memulai gerakan “pembaharuan”nya menilai bahwa perempuan berhak mendapatkan pendidikan yang layak seperti laki-laki. Namun, KH. Ahmad Dahlan yang menganjurkan anak-anak perempuan di Kauman masuk sekolah umum merupakan gagasan baru yang sesungguhnya masih sangat sulit diterima oleh masyarakat setempat.

Gagasan Kiai Ahmad Dahlan ini sempat dianggap sebagai langkah kontroversial, karena masyarakat setempat memang masih beranggapan bahwa perempuan tidak boleh keluar rumah. Apalagi jika seorang perempuan harus ke luar kampung untuk masuk sekolah yang dipimpin oleh orang Belanda. Langkah Kiai Dahlan tersebut jelas dianggap sebagai upaya menjerumuskan kaum perempuan dalam kekafiran.

Meskipun mendapat kecaman dari masyarakat setempat, KH. Ahmad Dahlan  tetap mendidik dan menjaga anak-anak gadis yang dianjurkannya menuntut ilmu di sekolah Belanda. Lewat perkumpulan pengajian Sapa Tresna, mereka dibina dan dididik dengan materi pelajaran agama Islam. Perkumpulan pengajian perempuan Islam pertama di kampung Kauman bernama Sapa Tresna inilah yang di kemudian hari menjadi cikal-bakal organisasi ’Aisyiyah.

Didirikan pada tahun 1914, Sapa Tresna beranggotakan  murid-murid perempuan di Sekolah Netral (Neutrale Meisjes School) dan Sekolah Agama (Diniyah Ibtidaiyah). Dari Sapa Tresna  inilah kemudian lahir tokoh-tokoh perempuan Muhammadiyah seperti Siti Bariyah, Siti Dawimah, Siti Dalalah, Siti Busyro (putri KH. Ahmad Dahlan), Siti Wadingah, dan Siti Badilah yang masing-masing masih berusia belasan.

Pada tahun 1917, setelah mendapatkan kader-kader perempuan yang dipandang memiliki kecakapan di bidang kepemimpinan, Hoofdbestuur (HB) Muhammadiyah menggelar rapat pembentukan organ sayap perempuan Muhammadiyah.

Kiai Dahlan mendapat usulan agar Muhammadiyah membentuk organisasi yang secara khusus bertujuan untuk memajukan kaum perempuan. Dalam pertemuan ini, mula-mula nama yang diajukan untuk perkumpulan yang akan dibentuk adalah ”Fatimah.” Nama ini tidak disepakati dalam pertemuan tersebut. Haji Fachrodin, kakak kandung Siti Bariyah, mengajukan nama ”Aisyiyah.” Pemberian nama ini dinisbatkan kepada istri Nabi SAW yang bernama Siti Aisyah. Para pengikut Siti Aisyah dinamakan ’Aisyiyah. Nama inilah yang berhasil disepakati dalam pertemuan tersebut. Akhirnya, pertemuan tersebut berhasil memutuskan pembentukan Muhammadiyah Bahagian Isteri (perempuan) yang diberi nama ’Aisyiyah (Darban, 2000: 48).

Dalam proses pembentukan Muhammadiyah Bahagian ‘Aisyiyah, Siti Bariyah, lulusan Sekolah Netral, dipercaya sebagai ketua (president) pertama (Pimpinan Pusat Aisyiyah, t.t.: 23). Dia sebagai lulusan Neutraal Meisjes School dan aktivis pengajian Sapa Tresna dipandang memiliki kecakapan khusus dalam memimpin salah satu orgaan di Persyarikatan Muhammadiyah ini.

Struktur pertama Hoofdbestuur (HB) Muhammadiyah bahagian ‘Aisyiyah adalah sebagai berikut: Ketua Siti Bariyah, Penulis Siti Badilah, Bendahari Siti Aminah Harowi, Pembantu Nj. H. Abdullah, Nj. Fatimah Wasool, Siti Dalalah, Siti Wadingah, Siti Dawimah, dan Siti Busyro (Lihat St. Ibanah Muchtar, “Pemandangan Umum ‘Aisjijah” dalam Soeara ’Aisjijah, no. 6/7 Ag/Sept 1953 Dz. Hidj/Muharam 1372 Th. XVIII).

Siapa Siti Bariyah?

Siti Bariyah merupakan santri ideologis KH. Ahmad Dahlan yang telah disiapkan untuk menjadi kader Perempuan Muhammadiyah. Beliau lahir keluarga besar Hasyim Ismail pada tahun 1907 sebagaimana tercatat di Wikipedia.id.

Siti Bariyah adalah salah satu di antara putra-putri Haji Hasyim Ismail yang berjumlah delapan orang. Merujuk pada manuskrip Haji Hasyim Ismail, Bariyah bersaudara dengan Yasimah, Daniel, Jazuli, Hidayat, Zaini, Munjiyah, dan Walidah. Mereka inilah di kemudian hari disebut sebagai “Bani Hasyim” di Muhammadiyah.

Bani Hasyim inilah menjadi penggerak-penggerak Muhammadiyah pada masa awal berdirinya. Daniel misalnya dikemudian hari berganti nama menjadi Haji Syujak, yang menjadi ketua pertama PKO atau Penelong Kesengsaraan Umum. Jazuli, berganti nama menjadi H. Fakhruddin (Ketua pertama majelis Tabligh Muhammadiyah, Bendahara Central Syarikat Islam, pemimpin redaksi Suara Muhammadiyah, Bintang Islam dll). Hidayat berganti nama menjadi Ki Bagus Hadikusumo (ketua PP Muhammadiyah setelah Mas Mansur dan aktif dalam pendirian Republik Indonesia)  dan Zaini—muballigh dan pakar kristologi (dari silsilah ini menurunkan tokoh: Busyro Muqoddas, Muhammad Muqoddas,  dan Fahmi Muqoddas).

Siti Bariyah binti Haji Hasyim Ismail yang lahir di Kauman, Yogyakarta pada tahun 1325 H, bersama Siti Wadingah dan Siti Dawimah pada tahun 1913 menuntut ilmu di Neutraal Meisjes School di Ngupasan atas arahan KH. Ahmad Dahlan (Ahmad Adaby Darban, 2000: 47).

Siti Bariyah dikenal sebagai gadis berparas ayu dengan kulit kuning langsat. Postur tubuhnya tidak terlalu tinggi, juga tidak terlalu pendek. Mata bulat lebar, tatapan matanya tajam.

Di antara santri-santri perempuan Kiai Dahlan, Bariyah paling sering diajak bertablig di kantor-kantor pejabat pemerintahan dan di sekolah-sekolah umum. Santri perempuan lain yang sering diajak bertabligh oleh KH. Ahmad Dahlan adalah Siti Wasilah (istri K.R.H. Hadjid).

Keduanya memang memiliki kemampuan dan wawasan yang melebihi santri-santri perempuan yang lain. Bariyah mahir berbahasa Belanda, juga bahasa Melayu, sedang Wasilah mahir melatunkan tilawatil quran. Sebelum pengajian dimulai, Khatib Amin menyuruh Wasilah untuk membacakan ayat-ayat suci Alqur’an sambil dilagukan dengan merdu. Bariyah mendapat giliran untuk menerjemahkan ayat-ayat Alquran ke dalam bahasa Melayu dan Belanda. Konon, dengan model pengajian seperti ini, banyak orang yang senang dan berlomba-lomba mengikuti pengajian.

Kiprah Siti Bariyah di Aisyiyah

Setelah berdirinya Aisyiyah pada tahun 1917 Siti Bariyah memulai karirnya sebagai ketua. Usianya teramat muda. Namun kepercayaan Kiai Dahlan menguatkannya sebagai ketua Aisyiyah pertama kali. Pertimbangan Kiai Dahlan di masa itu karena Siti Bariyah adalah lulusan sekolah Neutraal yang dianggap mumpuni dan memiliki pikiran modern.

Siti Bariyah dikenal sebagai perempuan dari Aisyiah yang teramat cerdas. Kecerdasannya itu diakui saat ia menulis di majalah Soeara Mohammadijah edisi no.9 pada tanggal 4 september 1923. Dalam buku Percik Pemikiran Tokoh Muhammadiyah Untuk Indonesia Berkemajuan (2018), terdapat keterangan mengenai tulisan Siti Bariyah yang berjudul Tafsir Maksoed Moehammadijah. “Pada tulisan itu, Siti Bariyah menyebut bahwa Muhammadiyah didirikan untuk memajukan dan menggembirakan pengajaran dan pelajaran Islam di seluruh Hindia Timur. Ia menegaskan bahwa Muhammadiyah mengajarkan agama dengan memakai cara sekolah di mana ada perpaduan antara ilmu agama dan ilmu umum, satu hal yang tidak didapatkan di pesantren.”

Ia memimpin Aisyiah dari 1917-1920, kemudian terpilih kembali di tahun 1927 sampai 1929 dalam Konggres di Pekalongan. Kepemimpinan pertama di Aisyiah ini merupakan tonggak dan jejak langkah kemajuan organisasi ini kedepannya. Terbukti selepas kepemimpinannya, Aisyiah menjadi organisasi yang maju dan kelak diberi keluasan dan kebebasan untuk menyelenggarakan kongres tersendiri pada tahun 1933.

Pada tahun kepemimpinan Bariyah, Aisyiah juga turut serta dalam program pemberantasan buta huruf, Aisyiah turut mempelopori pembangunan panti jompo dan pengkaderan bagi kaum perempuan. Siti Bariyah juga dikenal sebagai seorang mubalighat yang kerap diundang ke pengajian-pengajian. Ia begitu mahir bahasa Melayu dan bahasa Belanda. Melalui pengajian-pengajian yang ia berikan, ia mengenalkan terjemahan Al-Qur’an ke dalam bahasa yang akrab di telinga rakyat waktu itu. Siti Bariyah selain dikenal sebagai pimpinan, pendakwah, ia juga seorang pedagang batik. Siti Bariyah meninggal meninggal sekitar tahun 1931 M di usia yang masih relatif muda. Ia meninggal setelah melahirkan anaknya yang ketiga yaitu Fuad. Ia

Kiprah Siti Bariyah sebagai ketua Aisyiah pertama membuktikan bahwa perempuan memiliki peranan yang sama dalam organisasi, pergerakan, dan juga kontribusi di alam kebangsaan. Siti Bariyah memiliki peranan penting dalam merintis berbagai gerakan Aisyiah di masa awal. Selama hampir lima tahun awal memimpin Aisyiah, ia telah mengawali beragam gerakan perempuan di lingkungan Muhammadiyah. Pendirian taman kanak-kanak, panti jompo, serta cikal bakal NA atau Siswa Praja Wanita merupakan bagian dari pergerakan yang dirintisnya.  Selain itu, ia juga turut serta memprakarsai pendirian majalah “Soeara Aisjijah” yang merupakan media bagi kaum perempuan di Muhammadiyah. Kiprahnya akan terus dicatat zaman meski usianya begitu pendek. Dalam hidupnya yang singkat ia telah menorehkan sejarah yang harum bagi kaum perempuan Muhammadiyah dan perempuan di Indonesia.

Sumber :
Wikipedia.id
https://ibtimes.id/siti-bariyah-ketua-aisyiyah-pertama-dan-perintis-soeara-aisjiah/
Tulisan Muarif yang di muat dalam Alif Id.

(Agp,Atthy)

TINGGALKAN KOMENTAR

Maps Sekolah

Pengumuman

CENDEKIAWAN MUSLIM VI

Pembukaan Penerimaan Santri Baru MBS Tarakan Tahun 2021/2022

PENGUMUMAN KELULUSAN KELAS 9 TAHUN AJARAN 2019/2020