SEKILAS INFO
: - Monday, 29-11-2021
  • 2 bulan yang lalu / Cendekiawan Muslim VI ? Sudah daftar belum….?
  • 2 tahun yang lalu / Selamat datang di website resmi Muhammadiyah Boarding School (MBS) Tarakan.
Seri Tulisan Pembaharu Islam : A. Muhammad Abduh

Islam dan peradaban merupakan satu kesatuan yang tak mungkin dipisahkan. Sejak kehadirannya, Islam telah membawa konsep dan misi peradaban yang inheren dalam dirinya. Peradaban Islam bersumber pada dîn  yang berasal dari wahyu Allah. Itu sebabnya peradabannya biasa dikenal dengan istilah tamaddun atau madaniyyah, karena bersumber dari dîn tersebut. Kemudian ekspresi tinggi tamaddun Islam dalam sejarah peradaban manusia mendapat tempatnya di Yatsrib yang kelak berubah menjadi Madinah. Jadi, kota Madinah adalah tempat dimana tamaddun atau madaniyyah yang berasas pada dîn itu diproklamirkan kepada seluruh dunia.

Pada masa Khalifahan Ummayah peradaban islam membentang hingga benua eropa. Peradaban islam pada masa ini menjadi seumber inspirasi bagi bangsa lain. Islam berhasil merebut tongkat estafet peradaban sebelumnya, Romawi dan Persia dan mengalami puncak kejayaan pada masa Daulah Abbasiyah. Kemajuan peradabanislam ditandai dengan majunya ilmu pengetahuan dan teknologi di masa tersebut. Baghdad sebagai ibukota Imperium Abbasiyah menjadi pusat Ilmu pengetahuan sepanjang abad pertengahan atau disebut The Golden Age.

Majunya pengetahuan dan peraban Islam di masalulu tidak terjadi di abad-abad berikutnya. Kejatuhan Dinasti Abbasiyah oleh serangan pasukan mongol (1258) dibawah komando Hulagu Khan menjadi tanda dari kejatuhan peradaban islam itu sendiri. Selain Baghdad kejatuhan peradaban Islam di Andalusia oleh Pangeran Ferdinand dan Ratu Elisabeth pada abad ke 15 meruntuhkan hampir sebagian kekuasaan Islam yang kini dilanjutkan oleh Dinasti Ustmani dan berakhir pada awal abad ke 19 Masehi.

Umat Islam pada era sebelumnya (kejayaan Islam) maju disebabkan dinamika ilmu pengetahuan yang demikian maju. Barat maju karena ilmu. Oleh karena itu, sebagai seorang pembaharu (modernis), Muhammad Abduh berpendapat bahwa umat Islam harus kembali ke ajaran yang berkembang pada masa klasik semula, yaitu dikembalikan seperti ajaran yang pernah dilakukan di zaman Salaf (istilah salaf adalah ulama/generasi yang hidup dalam abad pertama sehingga abad ketiga hijriah, atau kelima hijriah. Sedangkan yang disebut dengan istilah khalaf adalah ulama/generasi yang hidup setelah abad ketiga atau kelima hijriah). Abduh berpendapat bahwa keadaan umat Islam pada waktu itu (di zaman Abduh) telah jauh berubah dari kedaan umat Islam di masa lampau. Untuk menyesuaikan ajaran Islam yang murni dengan kondisi dunia modern, maka perlu dilakukan interpretasi baru. Karena itu perlu dilakukan ijtihad. Dengan demikian, taklid kepada pendapat lama tak perlu dipertahankan, karena taklid telah menyebabkan umat Islam mundur dalam berbagai aspek kehidupan.

Dalam tulisan yang singkat ini kami akan menyajikan biografi dan pemikiran Syaikh Muhammad Abduh Sang Modernis Islam yang kami dapatkan dari berbagai Sumber.

Muhammad Abduh yang lebih dikenal dengan Syekh Muhammad Abduh, lahir pada tahun 1849 M/1265 H di Desa Mahallat Nasr, Kabupaten al Buhairah, Mesir. Ayahnya bernama Abduh Hasan Khairullah, berasal dari Turki, dan melalui ibunya Muhammad Abduh mempunyai silsilah keturunan sampai kepada Umar bin al Khattab. Muhammad Abduh menghabiskan masa kecil hingga dewasanya dengan belajar. Beliau berhasil menghafal Al Quran pada usia 12 tahun. Beliau menjaladi pendidikan masa kecilnya di sebuah desa bernama Thanta, 80 KM dari desa tempatnya tinggal.

Muhammad Abduh hanya sempat belajar 2 tahun di sekolah tersebut, dan akhirnya pada tahun 1864 M. dia memutuskan untuk pulang ke desanya dan ikut bertani bersama-sama dengan saudara-saudara dan kerabatnya yang lain. Karena Muhammad Abduh menilai bahwa sistem pengajaran di sekolah itu sangat menjengkelkan. Selama kurun waktu berada di desa setelah kembali dari sekolahnya itulah, Muhammad Abduh dalam usia yang relatif masih muda dinikahkan oleh orang tuanya.

Walaupun Muhammad Abduh sudah menikah, namun ayahnya tetap memaksanya untuk kembali belajar. Karena tidak sejalan dengan keinginan orang tua itulah, Muhammad Abduh bertekad tidak kembali Desa Thanta dan memilih melarikan diri ke kota Syibral Khit, dan di sana banyak paman dari pihak ayahnya bertempat tinggal. Di kota Sybral Khit inilah dia bertemu dengan salah seorang pamannya yang mempunyai pengetahuan tentang al qur an dan menganut paham tasawuf asy Syadziliah, beliau kenal dengan nama Syaikh Darwis Khidr. Syaikh Darwis Khidr berhasil mengubah pandangan Muhammad Abduh dari seorang yang membenci ilmu pengetahuan menjadi orang yang menggemarinya. Bahkan, ”Tidak berlalu lima hari dari masa pertemuan itu, kecuali apa yang tadinya paling kusenangi seperti bermain, bercanda, dan berbangga-bangga, telah berubah menjadi  hal-hal yang paling kubenci”. Demikian Muhammad Abduh menceritakan pengalamannya.

Selanjutnya atas saran Syaikh Darwis Khidr, Muhammad Abduh kembali ke mesjid al Ahmadi Thanta untuk belajar seperti sebelumnya. Namun minat belajar Muhammad Abduh kali ini jauh berbeda dengan waktu belajar pertama kali dimasjid tersebut, sebab pemikiran Muhammad Abduh telah dipengaruhi oleh cara dan paham sufistik yang ditanamkan oleh Syaikh Darwis Khidr.

Kemudian pada bulan Februari tahun 1866, Muhammad Abduh meninggalkan Thanta pergi ke Kairo untuk belajar di al Azhar. Namun bagi Muhammad Abduh, apa yang pernah dialaminya di mesjid di desa Thanta, sama halnya dengan dialaminya di al Azhar, karena sistem pengajaran ketika itu tidak berkenan di hatinya. Karena menurut Muhammad Abduh: ”Kepada para mahaiswa hanya dilontarkan pendapat-pendapat para ulama terdahulu tanpa mengantarkan mereka pada usaha penelitian, perbandingan, dan penarjihan.”

 Pada saat menjadi mahasiswa di Al Azhar, Muhammad Abduh bertemu dengan Mujaddid baru dunia Islam bernama Jamaluddin Al Afghani. Kehadiran Al Afghani disambut oleh Muhammad Abduh bersama rekan-rekannya dengan menghadiri setiap seminar yang beliau adakan. Mereka berdiskusi tentang ilmu-ilmu agama seperti Tasawuf dan Tafsir, juga mempelajari ilmu-ilmu modern, seperti seperti logika, politik, ilmu ukur, filsafat, sejarah, hukum, dan ketatanegaraan.

Hal istimewa yang diberikan Al Afghani kepada murid-muridnya adalah cara pandang baru dalam melihat dunia, terutama berkaitan dengan bakti dan jihad, untuk memutus mata rantai pemikiran jumud/kolot dan pemikiran tradisional dan mengubahnya menjadi cara berpikir yang lebih maju. Karena sangat dikagumi oleh mahasiswa mesir pemikiran Jamaluddin Al Afgani berkembang pesat di mesir.

Setelah pertemuannya dengan Jamaluddin Al Afghani, Muhammad Abduh mulai banyak membaca buku-buku filsafat dan mulai mempelajari perkembangan pemikiran kelompok mutazilah. Kelompok Mutazilah adalah kelompok yang dibentuk oleh Washil bin Atha 100 H/718 M. Muhammad Abduh yang tadinya adalah seseorang yang memilih untuk Taqlid, berubah menjadi orang yang berpikir maju, mandiri tanpa bertaklid kepada siapapun.

Pada tahun 1880 M, Muhammad Abduh diangkat menjadi redaktur surat kabar Al-Waqa’iul-Mishriyyah (surat kabar yang memuat tulisan dan pemikaran Jamaluddin Al Afghani). Pemikiran Jamaluddin Al Afghani dan Muhammad Abduh menjadi angin segar bagi kalangan muda umat islam terutama yang tengah menempuh pendidikan di Mesir. Di kemudian hari salah seorang pemuda yang bergabung dalam gerakan Muhammad Abduh adalah Muhammad Rasyid Ridha. Keduanya kemudian menulis dalam majalah Al Manaar. Majalah inilah yang kemudian di bawah oleh Kiyai mudah asal Nusantara Muhammad Darwis namanya.

Gejolak politik di Mesir tahun 1879 membuat Jamaluddin Al Afghani terusir. Muhammad Abduh pun terkena imbasnya karena dituduh melawan pemerintah Mesir saat itu. Setelah revolusi Urabi (Urabi Pasya, pemimpin perwira militer dan golongan nasionalisme Mesir) tahun 1882 yang berakhir dengan kegagalan, Muhammad Abduh yang ketika itu masih memimpin surat kabar al Waqa’i, terlibat dalam revolusi tersebut (sebagai penasihat), sehingga pemerintah Mesir memutuskan untuk mengasingkannya selama tiga tahun dengan memberi hak kepadanya memilih tempat pengasingannya, akhirnya dia memilih Suriah.

Keberadaan Muhammad Abduh di Suriah hanya bertahan satu tahun. Setelah itu, dia menemui gurunya Jamaluddin Al Afghani di Paris. Dari sana mereka menerbitkan sebuah surat kabar bernama Al Urwah Al Wutsqa, yang bertujuan untuk mendirikan gerakan Pan Islamisme serta menentang penjajahan barat terhadap negara mereka yaitu Mesir. Dari proses perjalanannya di Paris, Muhammad Abduh menemukan perbedaan antara Paris dan negerinya. Sehingga beliau pernah bertutur “dzahabtu ilaa bilaad al-ghorbi, roaitu al-Islam wa lam aro al-muslimiin. Wa dzahabtu ilaa bilaad al-‘arobi, roaitu al-muslimiin, wa lam aro al-Islam”.. (aku pergi ke negara Barat, aku melihat Islam namun tidak melihat orang muslim. Dan aku pergi ke negara Arab, aku melihat orang muslim namun tidak melihat Islam).

Muhammad Abduh kembali ke Mesir tahun 1888, namun belum dizinkan mengajar di Univeristas Al Azhar. Pada tahun 1894 Muhammad Abduh di angkar menjadi anggota majelis tertinggi mewakili Al Azhar. Sebagai anggota majelis dia membawa perubahan dan perbaikan terhadapa Universitas Al Azhar. Lima tahun kemudian, dia diserahi jabatan sebagai Mufti Mesir yang bertugas memberikan fatwa pada persoalan-persoalan yang ditanyakan kepadanya. Muhammad Abduh yang wafat pada tahun 1905 Masehi itu, yang  semasa hidupnya pernah memegang jabatan sebagai mufti dan hakim sementara pendidikan formal yang pernah dijalaninya pada Universitas al Azhar Kairo adalah Fakultas Ushuluddin, bukan pendidikan yang berlatar belakang syari’ah atau hukum. Itulah salah satu kelebihan yang dimiliki oleh seorang tokoh permbaharu Islam yang bernama Muhammad Abduh.

Pemikiran Muhammad Abduh menembus batas-batas dimensi dan waktu. Muhammad Abduh memberikan inspirasi kepada generasi tentang kemajuan dunia Islam, modernitas dan purifkasi atau pemurnian ajaran Islam. Pemkiran modernitas Muhammad Abduh kini menjadi gema, diikuti oleh banyak cendikiawan-cendikiawan Muslim yang berbeda zaman dengannya. Muhammad Abduh menjadi jembatan antara Wahyu dan Rasio, yang selama ini diperdebatkan oleh sebagian orang. Muhammad Abduh seolah ingin memberikan garis demarkasi “Agama dan Paham Agama”. Agama adalah sesuatu yang sudah final, berasal dari sumber teks yang shahih dalam hal ini Al Quran. Sedangkan paham agama sesuatu yang bersifat dinamis dan terikat kondisi zaman, dan berasal dari pemikiran manusia.

Muhammad Abduh telah lama meninggalkan kita. Jasadnya telah lama menjadi debu kembali ke tanah dan bersatu dengan alam. Namun gaung semangat Muhammad Abduh tidak boleh berhenti. Pintu Ijtihad tidak boleh tertutup, dan semangat pembaharuan terus tergelorakan. Semoga.

Sumber Tulisan           : – https://ibtimes.id/muhammad-abduh-ada-muslim-tapi-tidak-ada-islam/

Konten ini telah tayang di Kompasiana.com dengan judul “Hubungan Agama Islam dengan    Peradaban di Indonesia”, Klik untuk baca:

https://www.kompasiana.com/mohammaddwiantonimareta0487/60e32f3606310e6eb12a5e32        /hubungan-agama-islam-dengan-peradaban-di-indonesia

TINGGALKAN KOMENTAR

Agenda

Maps Sekolah

Pengumuman

CENDEKIAWAN MUSLIM VI

Pembukaan Penerimaan Santri Baru MBS Tarakan Tahun 2021/2022

PENGUMUMAN KELULUSAN KELAS 9 TAHUN AJARAN 2019/2020