SEKILAS INFO
: - Monday, 18-10-2021
  • 2 minggu yang lalu / Cendekiawan Muslim VI ? Sudah daftar belum….?
  • 2 tahun yang lalu / Selamat datang di website resmi Muhammadiyah Boarding School (MBS) Tarakan.

Oleh : Reddyta Pramudia | Santri Kelas 6 MBS Tarakan

Di masa yang aku tempuh sekarang, bukan lagi hal yang mudah untuk diriku. Apalagi di masa pendemi yang membuat keseharian ku sedikit demi sedikit menghilang. Aku adalah seorang siswi yang baru saja  berkelana di Pendidikan Sekolah Menengah Atas. Namun, sayang keinginan ku untuk melakukan moment dimasa SMA harus aku tutup rapat, karena virus Covid-19 yang sudah menyebar luas di seluruh dunia.

Salah satunya adalah negara yang sangat aku cintai yaitu, Indonesia. sampai diriku harus melakukan pembelajaran Online (dalam jaringan atau Daring) yang terkadang membuat kepalaku pening, karena harus menerima pelajaran yang sama sekali belum aku mengerti, seperti metode menonton Youtube yang bagiku kurang efektif. Aku memang bisa mencatat pelajaran tapi belum tentu otak ku akan mengingat pelajaran itu.

Aku punya satu lagu yang sering ku nyanyikan ketika aku bangun dari tidur, dengan nada lagu “Bangun Tidur”. Oke kita akan menyanyikan bersama-sama.                                                                           

 “Bangun tidur ku terus ngezoom,

 tidak lupa mengisi absen,

 habis absen ku langsung tidur,

melanjutkan mimpi indahku.”

Belum lagi ketika masih berada di alam tidur namun dipaksa untuk bangun dan mengikuti pelajaran, yang kadang membuatku bosan. Guruku pun mungkin terkadang jenuh dengan ku, yang terkadang sulit untuk mengerti ataupun jarang aktif di dalam grup. Contonya seperti, jarang untuk menanyakan hal yang tidak ku mengerti ataupun jarang merespon guru yang sedang mengajar. Dengan keputusan sekolah yang memilih untuk melakukan daring, aku dan teman-temanku pun sedikit kecewa karena akan mengurangi moment kebersamaan yang seharusnya kami rasakan di masa SMA. Apalagi kata orang, masa SMA adalah masa-masa paling indah. Namun kenyataan kami tak bisa merasakannya.

Nafasku yang lancar, terhalang protokol kesehatan. Terkadang saat aku memakai masker, aku merasa sesak, karena salah satu protokol kesehatan yang wajib dipatuhi adalah memakai masker. Dari banyaknya syarat protokol kesehatan, aku memilih untuk menceritakan tentang hal ini. Bayangkan di dalam ruangan, yang belum tentu siklus udaranya baik, kami tetap harus memakai masker. Rasanya pengap, begitulah yang aku rasakan saat ini. Tapi tidak apa, karena dengan kami menggunakan masker dapat mencegah penularan virus Covid-19 yang sekarang merajalela di penjuru dunia.

Pemakaian masker diwajibkan bukan hanya untuk di dalam ruangan, namun saat kami melakukan aktivitas yang harus dilakukan di luar ruangan pun, kami tetap harus mematuhi protokol kesehatan. Karena tidak dapat dipungkiri orang yang sedang berinteraksi dengan kita adalah orang–orang yang fisiknya kuat. Apalagi sekarang ada orang yang terkena Covid-19, tapi tidak nampak gejalanya, seperti layaknya orang yang sehat.

Sangat disayangkan, aku tidak dapat merasakan metode pembelajaran Blended Learning atau yang lebih jelasnya lagi adalah metode kolaborasi antara pembelajaran Online dan Offline dikatakan efektif dari cara penyampaian, model pengajaran, dan gaya pembelajaran. Blended Learning pun kini masih menjadi perbincangan hangat di dunia Pendidikan.

Pada masa pandemi Covid-19 saat ini, bagiku banyak orang yang berperan penting dilingkup sekolah maupun masyarakat. Mungkin yang terdekat dulu yaitu orang tua. Orang tua adalah peran yang paling penting di hidupku. Mengapa? Karena mereka yang mengetahui aktivitasku selama dirumah, 24 jam selalu bersamaku. Begitupun dengan perkembangan diriku. Mereka yang dapat mengatur ku dari segi manapun. Contohnya kebersihan, mereka tidak lupa untuk selalu mengingatkan ku tentang memakai masker ketika berada di luar rumah, menyuruhku untuk membersihkan diri setelah beraktivitas, begitupun dengan banyak nasehat yang diberikan. Sampai membuatku sadar bahwa aku harus menjaga diri sendiri untuk mereka maupun diriku sendiri.

Yang kedua adalah guru. Bagiku, guru adalah orang tua kedua di lingkungan sekolah, orang yang di amanahi untuk menjagaku ketika orang tuaku telah melepaskan diriku untuk menuntut ilmu di sekolah. Tidak lelah juga guruku selalu mengingatkanku tentang kebersihan maupun kesehatan. Jika sedikit saja kami lalai, tidak segan guru-guru untuk memperingati kembali tentang protokol kesehatan. Karena sedikit saja kami lalai, tidak tahu apa yang akan terjadi. Jadi, peran guru juga sangat penting dalam mengatur dan mengawasi kami.

Yang ketiga adalah SATGAS kesehatan. SATGAS kesehatan yang berperan penting dalam jalannya protokol kesehatan. Dapat memberikan edukasi kepada sekolah-sekolah yang telah melakukan tatap muka, ataupun melakukan Zoom Meeting untuk pencegahan menyebarnya Pandemi Covid-19. Namun SATGAS kesehatan di sekolah adalah UKS. Ibu UKS pun dapat memberikan saran ketika aku pergi untuk mengecek kesehatan, menjaga protokol kesehatan saat pembelajaran berlangsung, dan selalu menjaga kesehatan tubuh anak-anak.

Yang keempat adalah komite sekolah. Berhubung kepala sekolahku memutuskan untuk melakukan pembelajaraan tatap muka, jadi aku berpikir bahwa sekolahku telah berpikir matang untuk memasukkan kami ke Sekolah lagi. Jadi jika terjadi apa-apa akan ditanggung jawab oleh komite sekolah.

Dalam kesempatan ini sangat baik untuk kita dapat saling dan terus mengingatkan untuk tetap menjaga kesehatan diri maupun keluarga, selalu mematuhi protokol kesehatan dan tetap semangat menjalani hari-hari yang kadang tidak sesuai harapan. Karena dibalik itu semua ada hikmah yang dapat kita ambil dan pasti akan berguna dimasa depan.

TINGGALKAN KOMENTAR

Maps Sekolah

Pengumuman

CENDEKIAWAN MUSLIM VI

Pembukaan Penerimaan Santri Baru MBS Tarakan Tahun 2021/2022

PENGUMUMAN KELULUSAN KELAS 9 TAHUN AJARAN 2019/2020