SEKILAS INFO
: - Monday, 18-10-2021
  • 2 minggu yang lalu / Cendekiawan Muslim VI ? Sudah daftar belum….?
  • 2 tahun yang lalu / Selamat datang di website resmi Muhammadiyah Boarding School (MBS) Tarakan.

Oleh : Adriyana Nur Hafizha | Kelas 5 Santri MBS Tarakan

Keberagaman pastinya bukan hal yang asing bagi seluruh bangsa Indonesia. Mulai  dari semboyan, lagu nasional, hingga materi-materi pelajaran yang diajarkan di Sekolah semuanya mengisahkan keberagaman yang dimiliki negeri ini.

            Namun, apakah kita sudah pernah menyaksikan sendiri keberagaman yang ada di Indonesia? Ataukah  semua itu hanya diketahui melalui kisah-kisah yang terukir dengan tinta cetak? Tak pernahkah timbul keinginan untuk menjadi saksi dari kekayaan yang ada di tanah air?

            Tanah kelahiranku bukanlah sebuah daratan yang luas. Kota ini hanyalah sebuah pulau kecil yang sering menjadi tempat persinggahan. Namun, hal itulah yang menjadikannya kaya akan kebhinekaan. Berbagai suku, budaya, agama, bahkan ras dapat ditemukan di pulau terpencil di perbatasan utara Indonesia ini. Mengapa bisa demikian? Untuk memahaminya kita perlu mengulangi sedikit kisah dongeng sejarah Indonesia pada masa lampau.

            Menurut cerita rakyat, nama pulau Tarakan berasal dari bahasa tidung yang bermakna “Tempat para nelayan untuk istirahat makan, bertemu serta melakukan barter hasil tangkapan dengan nelayan lain,”. Tak sekedar tempat persinggahan, pulau kami juga memiliki sumber daya alam berupa minyak bumi berkualitas tinggi. Maka tak heran banyak penjajah yang tergiur untuk mengeruk kekayaan alam di pulau ini. Bahkan Negara Jepang pun berusaha untuk merebut tambang minyak yang pada saat itu dikuasai oleh Belanda.

            Dalam pengelolaannya, banyak tenaga kerja yang didatangkan dari daerah lain seperti Jawa, Sumatera, bahkan Cina dan daerah lainnya. Hal tersebut membuat kota kecil kami penuh dengan warna-warni kebudayaan dari berbagai daerah. Bahkan hingga saat ini masih banyak pendatang dari luar yang datang untuk merantau di pulau ini. Aku sendiri pun telah merasakan langsung realitas hidup berdampingan dengan teman-teman yang berbeda suku dan agama.

            Beragam suka dan duka kami jalani bersama dengan segala perbedaan di antara kami. Sebenarnya, tak seorangpun keberatan dengan perbedaan-perbedaan itu.  Kami sudah terbiasa hidup di lingkungan yang heterogen. Bahkan tak jarang di antara kami terlontar satu atau dua guyonan yang mengejek suku atau agama lain. Sekali lagi, tak seorangpun berkeberatan dengan candaan itu. Hanya saja, masalah akhirnya  mulai timbul ketika candaan kami mulai melampaui batas. Saat itu, tentunya akan ada pihak yang merasa tersinggung. Situasi kian memanas saat kedua kubu mulai berseteru. Pihak yang dijadikan bahan guyonan jelas tak terima dengan perlakuan tersebut. Sedang pihak lawannya akan terus menolak meminta maaf demi mempertahankan egonya. Sambil berdalih bahwa ucapannya hanya sekedar candaan yang tidak serius dan pihak yang tersinggung terlalu baper.

            Maka campur tangan seorang guru akhirnya bertindak. Dengan halusnya guru kami mengisahkan perdebatan konyol tersebut di depan seluruh warga sekolah. Kemudian melalui rantai bisikan, gosip pun kian mengalir. Dan sudah jelas, seluruh siswa mengecam tindakan berbau SARA tersebut.

            Dan runtuhlah segala gengsi dan egoisme di hati mereka. Kedua belah pihak yang bersengketa saling meminta maaf. Dan kami kembali bermain bersama dengan damai dan bahagia layaknya kisah dongeng 1001 malam.

Namun , bila ada cerah maka ada pula mendung dan badai. Kebersamaan hangat kami di sekolah ibarat membeku saat wabah covid-19 menyerang. Rangkulan kami terpisahkan oleh jarak. Bahkan senyuman kami tersamarkan di balik masker yang kini senantiasa melekat di wajah kami. Namun semua itu belum seberapa. Hal terberat yang kami jalani selama pandemi ini adalah KBM secara online alias daring.

Internet ibarat pedang bermata dua. Pada satu sisi jangkauan informasinnya jauh lebih luas dibanding media cetak yang biasa digunakan sebagai media pembelajaran tatap muka di sekolah. Namun di sisi lain, pastinya tak sedikit informasi palsu disebarkan di internet oleh berbagai pihak yang tidak bertanggung jawab. Bahkan kini kasus pencarian data pribadi melalui peretasan di internet kian sering menjadi topik hangat pada berita-berita harian

Keadaan tersebut menjadi lebih parah sejak pembelajaran daring berlangsung. Karena bahkan siswa bangku sekolah dasar mau tak mau harus menggunakan gadget dan jaringan internet untuk mengikuti KBM di sekolah. Anak-anak yang semestinnya menggunakan gadget di bawah pengawasan orangtua malah dibebaskan memakai gadget tanpa pengawasan. Sebab, sebagian besar orangtua juga sibuk dengan pekerjaannya

Anak-anak yang belum paham cara memilah informasi pastinnya menjadi sasaran empuk bagi para  peretas dan pencuri informasi. Jangankan informasi palsu, informasi yang sudah jelas kebenarannya pun bila tidak dipahami dengan baik bisa mendatangkan kerugian pada berbagai pihak. Contohnya seperti kasus berikut.

Beberapa waktu yang lalu, media sempat dihebohkan dengan berita tentang beberapa warga yang tiba-tiba saja mendapatkan tagihan pembayaran senilai jutaan bahkan puluhan juta rupiah. Setelah diselidiki, ternyata tagihan tersebut berasal dari pembelian item di game online oleh anak-anak mereka. Informasi pembelian item dalam game online tersebut sudah benar dan tidak ada yang ditutup-tutupi. Hanya saja pengguna yang masih anak-anak ternyata masih belum bisa mencerna informasi tersebut dengan benar.

Salah satu korban kasus ini adalah Ririn Ike Wulandari, seorang ibu berusia 37 tahun. Ririn tiba-tiba saja mendapat tagihan sebesar 11 juta rupiah saat hendak membayar tagihan telepon pasca bayar. Tagihan tersebut rupanya berasal dari pembelian item game online oleh anaknya. “Enggak berlebihan rasanya jika saya mengingatkan orangtua untuk benar-benar melek HP,” tulis Ririn pada unggahannya di facebook.

Maka dari itu kebijakan dalam menghadapi disrupsi teknologi menjadi kompetensi yang sangat dibutuhkan pada era modern saat itu. Terutama bagi siswa-siswi bangku sekolah selama masa pembelajaran daring. Siswa mestinya mampu memilah informasi yang baik untuk disebarluaskan. Dan  sebisa mungkin menghindari informasi yang sumbernya tidak jelas atau terlihat tidak meyakinkan dasarnya.

Untungnya kami telah dibekali oleh pengetahuan untuk memilah informasi serta sikap yang bijak dalam menggunakan gadget. Maka sekarang tugas kami adalah meneruskan ilmu tersebut kepada adik-adik kami, meski hanya dengan cara sederhana yaitu membuat artikel dan cerpen yang memuat informasi tentang hoaks dan cara bijak menggunakan teknologi lalu menyebarluaskannya di berbagai media. Dengan harapan usaha kecil kami bisa menggerakkan roda perubahan ke arah yang lebih baik .

Berbicara mengenai hoaks, ada juga topik menarik seputar hoaks dan keberagaman. Mungkin kalian pernah mendengar perkataan-perkataan seperti Orang Batak itu kasar atau Orang Minang itu pelit. Padahal kita semua sama-sama tahu bahwa kepribadian seseorang tak ditentukan berdasarkan suku bangsanya. Bahkan dua kembar identik sekalipun bisa memiliki watak yang berbeda jauh. Berarti, pemikiran mengenai watak suatu suku bisa dikategorikan sebagai informasi yang tidak benar alias hoaks. Atau mungkin lebih tepatnya stereotip.

Pemikiran seperti itu memang sangat mudah merebak di lingkungan dengan suku yang beragam. Namun hal tersebut mestinya tak menjadi alasan untuk memandang suku lain berasarkan persepsi stereotip yang beredar. Apalagi bagi kami yang tinggal di pulau kecil yang dihuni berbagai macam suku dan ras. Jika saja budaya stereotip berkembang disini, entah kerusuhan seperti yang akan terjadi.

Namun untungnya hal tersebut belum pernah terjadi. Hingga saat ini pun kami masih menghargai perbedaan-perbedaan yang ada diantara kami. Stereotipme hanya sekedar candaan dan angin lalu. Baik dari segi suku, budaya, maupun agama. Kami saling menerima dan menghargai perbedaan. Sebab, semua itu adalah kekayaan yang sudah semestinya kita jaga. Jangan sampai hanya dengan masalah sesepele candaan negeri kita ini sampai terpecah. Selalu jaga soladiritas kita sebagai satu keatuan bangsa Indonesia dalam wilayah NKRI. Dan jangan lupa memakai masker kawan-kawan!

TINGGALKAN KOMENTAR

Maps Sekolah

Pengumuman

CENDEKIAWAN MUSLIM VI

Pembukaan Penerimaan Santri Baru MBS Tarakan Tahun 2021/2022

PENGUMUMAN KELULUSAN KELAS 9 TAHUN AJARAN 2019/2020