SEKILAS INFO
: - Monday, 18-10-2021
  • 2 minggu yang lalu / Cendekiawan Muslim VI ? Sudah daftar belum….?
  • 2 tahun yang lalu / Selamat datang di website resmi Muhammadiyah Boarding School (MBS) Tarakan.
300 DAN 309 TAHUN PEMUDA AL KAHFI

Bukan Relativitas Khusus

Dan demikianlah Kami bangunkan mereka, agar di antara mereka saling bertanya. Salah seorang di antara mereka berkata, “Sudah berapa lama kamu berada (di sini)?” Mereka menjawab, “Kita berada (di sini) sehari atau setengah hari.” Berkata (yang lain lagi), “Tuhanmu lebih mengetahui berapa lama kamu berada (di sini). Maka suruhlah salah seorang di antara kamu pergi ke kota dengan membawa uang perakmu ini, dan hendaklah dia lihat manakah makanan yang lebih baik, dan bawalah sebagian makanan itu untukmu, dan hendaklah dia berlaku lemah lembut dan jangan sekali-kali menceritakan halmu kepada siapa pun.

Dan mereka tinggal dalam gua selama tiga ratus tahun dan ditambah sembilan tahun.

Banyak orang mengaitkan QS Al-Kahf (18): 19 dan 25 tadi dengan teori relativitas khusus. Upaya ini jelas merupakan kekeliruan yang berasal dari kekuranghati-hatian dan kekaburan atas teori relativitas khusus itu sendiri. Ayat ini menyinggung perbedaan waktu yang di rasakan oleh pemuda di dalam gua; sehari bahkan setengah hari, menurut mereka, padahal sesungguhnya tiga ratus sembilan tahun. Ada pemoloran waktu yang merupakan salah satu implikasi teori relativitas khusus.

Masalahnya, ada elemen atau faktor yang tidak dipenuhi jika fenomena tersebut dikaitkan dengan teori relativitas khusus, yakni gerak relatif. Pemuda dan orang lain yang dibandingkan tersebut tinggal di tempat yang sama, permukaan bumi. Bedanya, pemuda tinggal di dalam gua, sedangkan orang lain yang dibandingkan dengannya tinggal di luar gua. Pemuda di dalam gua tidak bergerak relatif terhadap orang-orang di luar gua. Karena itu, teori relativitas khusus tidak akan memberi perbedaan waktu antara mereka. Artinya, tiga ratus sembilan tahun bagi orang-orang di luar gua juga akan dirasakan tiga ratus sembilan tahun bagi yang di dalam gua. Atau, sehari bagi pemuda yang di dalam gua, sehari juga bagi yang di luar gua. Dengan demikian, dilasi atau pemoloran waktu versi relativitas khusus Einstein tidak berlaku bagi pemuda Al-Kahfi.

Lalu, ayat-ayat ini menyiratkan rahasia apa? Jelas diperlukan penyelidikan lebih lanjut terhadap banyak aspek dari pemuda yang berada di dalam gua tersebut. Sedikitnya ada dua aspek dalam kisah pemuda Al-Kahfi ini. Pertama, aspek fisik atau biologis. Sang pemuda merasa baru setengah hari atau sehari tinggal di dalam gua, padahal mereka telah tinggal selama tiga ratus sembilan tahun. Bagaimana mungkin sang pemuda hanya merasa sehari bahkan kurang? Tentu, sang pemuda juga hanya mengalami proses perkembangan biologis, seperti perubahan warna, panjang, jumlah atau kelebatan rambut serta pengeriputan kulit yang tidak berarti sehingga hanya merasa baru tinggal sehari. Jika proses biologis tumbuh alamiah, rentang waktu tiga ratus sembilan tahun tentu telah membuat rambut panjang, beruban, dan mungkin sebagian telah rontok. Demikian pula kulit sang pemuda tentu tidak lagi kencang, halus, dan mulus, tetapi telah keri put beringsut. Pertanyaannya, mungkinkah hal ini dapat terjadi? Jika memang dapat, bagaimana bisa terjadi? QS Al-Kahf (18): 11 memberi informasi lain, yaitu telinga pemuda di dalam gua ditutup.

Maka Kami tutup telinga mereka di dalam gua itu, selama beberapa tahun.

Apa pengaruh ditutupnya telinga atas perkembangan biologis atau ketuaan seseorang? Ayat ini mestinya memberi inspirasi para biolog Muslim untuk melakukan kajian empiris lebih jauh.

Aspek kedua adalah aspek waktu yang secara eksplisit disebut di dalam dua ayat sebelumnya. Aspek waktu ini sendiri masih dapat dipilah menjadi dua kasus. Pertama, kesetaraan waktu setengah atau satu hari dengan tiga ratus sembilan tahun. Kedua, penggunaan redaksi ayat yang memenggal satuan waktu tiga ratus tahun dan ditambah sembilan tahun bukan redaksi tiga ratus sembilan tahun. Mengapa tidak langsung tiga ratus sembilan tahun atau tiga ratus tahun saja?

Sistem Kalender

Penyebutan waktu yang mendua pasti memberi pesan implisit yang harus direnungkan dan dikaji oleh manusia dan bukan ekspresi kebingungan Sang Khalik, Allah Swt. Adakah fenomena waktu yang dapat dikaitkan dengan waktu 300 dan 309 tahun? Jawabnya ada. Apa itu? Pergeseran Hari Raya Idul Fitri maupun Idul Adha yang selalu maju (sekitar) sebelas hari setiap tahun. Sebagai contoh, Idul Fitri 2006 berlangsung pada 23/24 Oktober, sedangkan tahun 2007 berlangsung pada 12/13 Oktober; tetapi hari Natal umat Nasrani selalu tetap, yakni jatuh pada 25 Desember. Mengapa kenyataan ini dapat terjadi? Jawaban. umat Islam menggunakan sistem waktu berbasis peredaran bulan (lunar system), yakni kalender Qamariah, sedangkan umat Nasrani menggunakan kalender Masehi yang bertumpu pada revolusi bumi mengelilingi matahari. Saat ini diketahui bahwa satu tahun menurut kalender Masehi terdiri dari 365,25 hari, sedangkan satu tahun kalender Qamariah terdiri dari 354,37 hari. Rasio dua jumlah hari dalam satu tahun untuk sistem kalender yang berbeda ini adalah 354.37/365,25 = 0,97021. Angka ini mendekati atau hampir sama dengan rasio bilangan tahun dalam Surah Al-Kahf, 300/309 = 0.97087.

Artinya, bilangan hari dalam sistem kalender Qamariah dan sistem kalender Miladiyah (Masehi) telah mendekati kebenaran. Masalah yang tersisa saat ini adalah belum adanya kesepakatan awal setiap bulan dalam sistem kalender Qamariah, seperti telah disinggung pada uraian sebelumnya. Akibatnya, untuk satu tanggal pada bulan (sistem) Qamariah dapat terjadi dua sampai tiga bahkan empat hari yang berbeda. Satu kenyataan yang sama sekali kurang elok sekaligus kurang ilmiah.

Sistem kalender Masehi sendiri tidak langsung jadi seperti saat ini, melainkan berproses mengalami perubahan dan kesepakatan Kalender ini berawal dari sistem perpaduan antara lunar dan solar yang diprakarsai oleh Raja Romawi kedua, Huma Pompillus, pada abad ke-8 SM, yang awal tahun dimulai pada bulan Maret. Pada 153 SM, terjadi perubahan awal tahun, dari Maret menjadi Januari. Baru pada 46 SM, Julius Caesar melakukan perombakan sistem beralih ke sistem solar murni dan jumlah hari dari 355 menjadi 365,25 hari dalam satu tahun. Meskipun lebih teliti, tetap terjadi penyimpangan, dan pada 1582, Paus Gregorius XIII melakukan perbaikan dengan melompatkan sepuluh hart, setelah 4 Oktober 1582 keesokan harinya ditetapkan menjadi tangga 15 Oktober 1582. Dalam sistem kalender yang telah direvisi ini, satu tahun terdiri dari 365,2421990741 hari.

Kapan kalender Qamariah bersama yang satuannya telah disinggung Surah Al-Kahf tadi dapat disepakati dan dibuat? Ilmuwan Muslim dari berbagai latar belakang, khususnya fisika dan astronomi, perlu ber kumpul, merumuskan, dan memberi masukan masalah ini kepada para ahli fiqih.[]

TINGGALKAN KOMENTAR

Maps Sekolah

Pengumuman

CENDEKIAWAN MUSLIM VI

Pembukaan Penerimaan Santri Baru MBS Tarakan Tahun 2021/2022

PENGUMUMAN KELULUSAN KELAS 9 TAHUN AJARAN 2019/2020